Paling pilu;
bila warna cacian yang biasa kuwarnai,
terpalit ke atas kanvas diri
Terbit kesedaran, bahwa
terjemahan tomahan, cuma
chermin kemanusiaan dunia
Lalu, apa yang perlu?
Melangkah seperti patung
yang patuh kepada tali
yang utuh menggantung diri?
Jika itu nyanyian kelakian,
lebih rela aku menjadi bisu.
Jika itu ikrar kebenaran,
lebih rela aku jadi pengkhianat.
Tapi selut peradaban adat
berputar padat kelilingku
Menjerat erat kederat
urat nan berselirat bangkaiku
Kerna aku terbarzakh di fana yang hanya
memberi prioriti kepada posisi & lokasi.
Pangkat diangkat & harta menjadi dewata
juga rupa penampilan imej luaran terutama.
Hiba gila hingga
mengalir airmata simpati
untuk diri & manusia
Bila semua tertimbus terkambus hilang terus
dalam jerlus kemanusiaan ciptaan.
[maaf yg sia²+kulit perasan yg ikhlas+pengorbanan celaka≠apa yg patut kau terima]